Dilema antara pendidikan karakter dan fullday school
Dilema antara pendidikan karakter dan Fullday school
Apa yang menjadi pertanyaan saat ini terkait judul diatas, terkait permasalahan pendidikan karakter ini sedikit sulit untuk diterapkan, mengingat ada banyak karakter siswa yang berbeda-beda, pendidikan karakter memang adalah sebuah keharusan tapi apakah pendidik maupun guru, sudah mampukah mereka untuk memasukan suatu cara pendidikan karakter ini kedalam jiwa-jiwa siswa-siswa yang saat ini mereka didik. Biasanya kendalanya disana, karena kita ketahui tidak semua guru mampu mempraktekan hal tersebut, ya kita ketahui banyak tipikal guru yang berbeda, biasanya siswa akan mengikuti pelajaran yang diajarkan guru bila tipikal guru itu enak dan mudah dipahami, kalau saya secara pribadi, mengkritik tenaga pendidik bukan siswa, karena siswa ini baru masanya untuk belajar, jika seorang guru tidak mampu memberikan pendidikan atau pengajaran yang kurang baik atau lengkap maka siswa ini pun agak sulit untuk menerima, terus siswa berbeda dengan mahasiswa, itu jelas. Mahasiswa pun terkadang kurang menangkap apa yang disampaikan oleh dosen, bagaimana dengan siswa? Diantara banyak kuantitas, hanya sedikitlah yang menjadi berkualitas, inilah yang menjadi tantangan pendidikan hari ini, bagaimana menciptakan keseimbangan antara kuantitas dengan kualitas siswa tersebut. Biasanya dari 40 siswa dalam kelas, hanya 10-15 yang bisa memahami, sisanya banyak belum bisa memahami, itupun alhamdulillah kalau bisa 10-15, terkadang hanya 2-3 siswa. Ini yang jadi permasalahan adalah sistem pendidikan kita yang kurang jelas, fullday school memang memiliki sisi positif dan negatif, tapi disatu sisi, siswa tidak bisa dipaksakan untuk belajar lebih dari 3 jam, karena akan ada kebosanan yang timbul, ketika seorang sudah bosan, maka pelajaran yang diberikan akan tidak masuk dalam lingkup pikiran siswa tersebut.
Fullday school menuai kontroversi yang hebat dari berbagai aspek, karena fullday school menerapkan jam belajar yang terbilang memaksakan seorang siswa, disatu sisi fullday school adalah cara bagaimana mendidik siswa untuk memperbanyak waktu belajar disekolah, agar menghindari dari pergaulan yang salah, yang diakibatkan lingkungan disekitarnya, namun sudah penulis jelaskan diatas bahwa, fullday school akan menjadi "polemik" bersama. Terkait penerapan fullday school tersebut, banyak reaksi dari siswa-siswa yang beranggapan, bahwa mereka seperti dipaksakan untuk belajar disekolah dengan harapan mereka bisa cerdas, namun pada faktanya. Siswa banyak stres dan bosan dalam belajar, siswa-siswa mulai mempertanyakan sistem pendidikan yang seperti ini, apakah sistem pendidikan seperti ini mampu menciptakan generasi bangsa yang baik, ataukah akan membuat para siswa-siswa menjadi stres, sehingga mereka malas untuk berangkat ke sekolah. Inilah yang harus diperjelas kembali oleh menteri pendidikan dan kebudayaan, apa tujuan dari fullday school ini, apakah orangtua maupun siswa, mampu mengerti maksud dan tujuan dari penerapan fullday school ini dengan jelas ?
Comments
Post a Comment